Friday, February 2, 2018

I. Perilaku Organisasi-EKMO5101.01 - Diskusi - 2

STUDI KASUS: MOTIVASI

AMRI, seorang Manajer sebuah perusahaan real estat mengevaluasi hasil penjualan tenaga pemasarnya dengan penuh kepuasan. Setiap tenaga pemasar telah melebihi quota paling tidak 15 per cent, kecuali HASAN hanya mampu memenuhi quota yang telah ditentukan. Sampai dengan enam bulan lalu, HASAN, umur 50 tahun merupakan tenaga pemasar perusahaan paling berprestasi. Akan tetapi akhir-akhir ini kinerjanya menurun. Perusahaan mempunyai program insentif yang memungkinkan tenaga pemasar mendapatkan bonus ekstra yang sangat tinggi.

Setelah AMRI mendiskusikannya dengan HASAN, ia mengakui bahwa sebagai seorang yang pernah mendapatkan pendapatan yang cukup besar dari bonus yang diterimanya, dan akumulasi dari bonus yang diterimanya bertahun-tahun kemudian diinvestasikan pada usaha “KULINER”. Menurutnya pendapatan yang diperolehnya dari usaha kuliner melebihi kebutuhannya untuk hidup. Konsekuensinya, HASAN merasa tidak perlu lagi untuk bekerja keras melebih quota seperti yang pernah dilakukannya.

1)Faktor-faktor motivasi apa yang ada pada pekerjaan di atas ?

2)Teori motivasi mana yang paling tepat untuk menjelaskan prilaku HASAN ?

3)Jika anda AMRI, apa yang akan anda lakukan untuk memotivasi HASAN agar bisa berprestasi seperti sebelumnya ?


1. Faktor-faktor motivasi yang ada pada pekerjaan di atas adalah:
1)      Hygiene Factors
Hygiene factors (faktor kesehatan) adalah faktor pekerjaan yang penting untuk adanya motivasi di tempat kerja. Faktor ini tidak mengarah pada kepuasan positif untuk jangka panjang. Tetapi jika faktor-faktor ini tidak hadir, maka muncul ketidakpuasan. Faktor ini adalah faktor ekstrinsik untuk bekerja. Faktor higienis juga disebut sebagai dissatisfiers atau faktor pemeliharaan yang diperlukan untuk menghindari ketidakpuasan. Hygiene factors (faktor kesehatan) adalah gambaran kebutuhan fisiologis individu yang diharapkan untuk dipenuhi. Hygiene factors(faktor kesehatan) meliputi gaji, kehidupan pribadi, kualitas supervisi, kondisi kerja, jaminan kerja, hubungan antar pribadi, kebijaksanaan dan administrasi perusahaan.
Faktor higienis meliputi :
  1. Bayaran atau struktur gaji harus sesuai dan masuk akal. Ini harus sama dan kompetitif dengan industri yang sama di domain yang sama.
  2. Kebijakan perusahaan dan administrasi kebijakan perusahaan tidak boleh terlalu kaku. Harus adil dan jelas. Ini harus mencakup jam kerja, pakaian kerja, istirahat, liburan, dan lain sebagainya.
  3. Tunjangan, para karyawan harus diberikan rencana perawtan kesehatan, manfaat bagi anggota keluarga, program bantuan karyawan dan lain sebagainya.
  4. Kondisi fisik tempat kerja, kondisi tempat kerja harus aman, bersih, higienis, peralatan kerja harus diperbaharui dan dilakukan perawatan.
  5. Status, status karyawan dalam organisasi harus akrab dan dipertahankan.
  6. Hubungan interpersonal, hubungan antar karyawan dengan atasan dan bawahannya harus sesuai dan dapat diterima(harmonis),  seharusnya tidak ada konflik dan tidak ada penghinaan antar karyawan.
  7. Keamanan dalam bekerja, organisasi harus memberikan keamanan setiap karyawan dalam melakukan tugas-tugasnya.

Dalam pekerjaan sebuah perusahaan real estate diatas faktor higiene dapat dilihat dari perusahaan mempunyai program insentif yang memungkinkan tenaga  pemasar mendapatkan bonus ekstra yang sangat tinggi sehingga dapat memacu memotivasi para tenaga kerja pemasaran sebuah perusahaan real estate diatas.

2). Motivation Factors
Menurut Herzberg, hygiene factors (faktor kesehatan) tidak dapat dianggap sebagai motivator. Faktor motivasi harus menghasilkan kepuasan positif. Faktor-faktor yang melekat dalam pekerjaan dan memotivasi karyawan untuk sebuah kinerja yang unggul disebut sebagai faktor pemuas. Karyawan hanya menemukan faktor-faktor intrinsik yang berharga pada motivation factors (faktor pemuas). Para motivator melambangkan kebutuhan psikologis yang dirasakan sebagai manfaat tambahan. Faktor motivasi dikaitkan dengan isi pekerjaan mencakup keberhasilan, pengakuan, pekerjaan yang menantang, peningkatan dan pertumbuhan dalam pekerjaan.
Faktor motivasi meliputi:
  1. Pengakuan, para karyawan harus dipuji dan diakui untuk prestasi mereka oleh manajer.
  2. Reward, bagi karyawan yang melampaui pencapaian dan target dari tugas yang diberikan, maka manajer memberikan reward bagi mereka.
  3. Pertumbuhan dan ruang promosi, harus ada peluang pertumbuhan dan kemajuan dalam sebuah organisasi guna memotivasi karyawan untuk memberikan kinerja yang baik.
  4. Tanggung jawab, karyawan harus bertanggung jawab atas tugas yang dimiliki, manajer harus memberikan mereka kepemilikan pekerjaan. Mereka harus meminimkan kontrol tetapi mempertahankan akuntabilitas.
  5. Kebermaknaan pekerjaan, pekerjaan itu sendiri harus bermakna, manarik dan menantang bagi karyawan untuk melakukan dan mendapatkan motivasi.
 Kekurangan dari teori dua faktor:
  1. 1eori dua faktor mengabaikan variabel situasional.
  2. Herzbergs mengasumsikan hubungan antara kepuasan dan produktivitas. Namun penelitian yang dilakukan Herzbergs menekankan pada kepuasan dan mengabaikan produktivitas.
  3. Keadaan teori tersebut tidak pasti. Analisi harus dibuat oleh penilai. Para penilai dapat merusak temuan dengan menganalisi respon yang sama dengan cara yang berbeda.
  4. Tidak ada ukuran komprehensip kepuasan yang digunakan. Seorang karyawan mungkin menemukan pekerjaannya dapat diterima meskipun fakta bahwa ia mungkin membenci bagian dari pekerjaannya.
  5. Teori ini mengabaikan pekerjaan kasar, meskipun keterbatasan ini, teori dua faktor Herzbergs dapat diterima secara luas.
Dalam pekerjaan sebuah perusahaan real estate diatas faktor Motivator dapat dilihat dari tanggung jawab pak AMRI yang telah mengevaluasi hasil penjualan tenaga pemasarannya dan mendiskusikannya dengan HASAN yang telah dinilai akhir-akhir ini kinerjanya kenapa menurun.
 
2. Teori Motivasi yang paling tepat untuk menjelaskan prilaku HASAN adalah:
Teori yang paling tepat untuk menjelaskan perilaku pak HASAN adalah Teori Hirarki Kebutuhan Abraham Maslow. (2012). Menurut  teori tersebut, seseorang mempunyai motivasi jika dia belum mencapai tingkat kepuasan tertentu dalam kehidupannya.  Kemudian apabila kebutuhan akan sesuatu telah terpenuhi, maka kebutuhan tersebut tidak lagi akan menjadi motivator. Pada pekerjaan diatas dapat dilihat bahwa HASAN merasa sudah terpenuhi kebutuhannya dari usaha kulinernya sehingga di perusahaan dia tidak lagi merasa perlu bekerja keras melebihi quotapekerjaan sebagai tenaga pemasar perusaan seperti yang pernah dilakukannya.

3. Apabila Saya AMRI yang dalam hal ini sebagai Manajer sebuah perusahaan real estate diatas:
Maka Saya akan menawarkan kenaikan gaji/ promosi jabatan kepada HASAN. karena HASAN termasuk karyawan yang memiliki potensi cukup baik di bidang pemasaran, terbukti HASAN mampu memenuhi quota pemasaran melebihi apa yang dibebankannya pada tahun-tahun sebelumnya. Pemberian tawaran  kenaikan gaji/ promosi jabatan dimaksudkan untuk mengembalikan motivasi kerja HASAN di perusahaan real estate diatas dan sekaligus merangsang karyawan lain untuk bekerja lebih baik lagi. Akan tetapi persoalannya HASAN belum tentu menerima tawaran dinaikkan gajinya/ kenaikan jabatannya, ada keungkinan HASAN  berfikir dengan naik gaji/ naik jabatan tanggung jawabnya akan bertambah, bisa jadi HASAN sudah merasa nyaman dengan kondisinya sekarang, apalagi usia HASAN yang sudah tidak muda bisa jadi HASAN ingin mengurangi tingkat stresnya dalam memenuhi target perusahan.
Dalam menghadapi situasi seperti ini, Saya sebagai pimpinan sebuah perusahaan real estate diatas akan memberikan motivasi bahwa HASAN adalah salah satu karyawan yang prestasinya terbaik dengan memberikan pengakuan dan reward kepada HASAN sebagai salah satu  karyawan terbaik di perusahaan. Selanjutnya saya akan meminta HASAN untuk transfer knowledge atas pengalamannya ketika sukses menjadi tenga pemasar perusahaan terbaik. Sehingga pegawai lain dapat sukses seperti HASAN saat menjadi tenaga pemasaran sebuah perusahaan real estate diatass eperti tahun sebelumnya.

Referensi:
  1. Abraham H. Maslow. (1994). Motivasi dan Kepribadian (Teori Motivasi dengan Pendekatan hierarki Kebutuhan Manusia). PT PBP, Jakarta
  2. Achmad Sobirin (2015). Perilaku Organisasi, ed.2. ISBN 9789790119550. Penerbit: Universitas Terbuka. Jakarta
  3. Ferry Roen (2012). Teoro dan Perilaku Organisasi. Available Online: http://perilakuorganisasi.com/teori-dua-faktor.html, diakses: tgl. 10 Februari 2018.
Salam,

Bambang Santoso

III. Metode Kuantitatif-EKMO5103.03 - Diskusi 1 Lanjutan

Silahkan Simak Video berikut.

Atau Klik Link

Mengacu pada materi terlampir dan dari penjelasan dalam video tersebut, bagaimana hubungan antara expected value dan objective choice dalam konsepsi sebuah pengambilan keputusan yang rasional seorang manajer di dunia nyata?
Silahkan diskusikan!


Dear Bpk/Ibu Tutor dan Teman-teman,
Hubungan antara expected value dan objective choice dalam konsepsi sebuah pengambilan keputusan yang rasional seorang manajer di dunia nyata adalah:
In a situation like this, daily outcome is not always earned because raw ingredients and supplies are first purchased everyday which reduces the expected value. Chances of success are affected by few factors, one of which includes that such as the weather, if it is windy and cold, ice creams are not likely to sell with much success percentage, so they are taken into account which tells you that you have earned a profit or loss. Say, the total amount for the expenses to make hotdogs is $70/day and that for icecreams is $100/day; whereas chances of success for selling hotdogs is 50% and 40% for icecreams.
Using the decision tree can give you a visual presentation of your choices and the actual estimated value can be calculated by using the formula:
(chance of outcome 1 x financial result of outcome 1) + (chance of outcome 2 x financial result of outcome 2) = expected value
In other words, (chance of success x money earned) + (chance of failure x money lost) = expected value
So for hotdog stand, expected value = (0.5 x $350) + (0.5 x -$70) = $140
And for icecream stand, expected value = (0.4 x $400) + (0.6 x -$100) = $100
The hotdog stand has a higher expected value than the icecream stand, but this does not necessarily mean that $140 are earned everyday. There is no guarantee that you'll get an average result in the real world but with this, it can help you make an objective choice involving risks when you start a business or facing any tough decisions.
Regars,
Bambang S

bagaimana hubungan antara expected value dan objective choice dalam konsepsi sebuah pengambilan keputusan yang rasional seorang manajer di dunia nyata?
Expected value adalah sebuah konsep nilai harapan yang diperoleh dan  bertujun untuk membantu memutuskan apakah sebuah tindakan menguntungkan atau merugikan dalam kegiatan usaha bisnis. Nilai harapan bisa digunakan dalam situasi yang melibatkan peluang, investasi bursa saham, atau dalam situasi lain yang bisa menghasilkan beberapa kemungkinan.
Objective choice adalah Pilihan atau tindakan  yang obyektif  untuk mencapai  tujuan  tertentu dan tujuan itu ditentukan oleh nilai atau pilihan (prefensi). Pilihan obyektif  diperlukan untuk mencapai  nilai harapan yang telah dihitung dengan mempertimbangkan adanya banyak faktor resiko muncul dalam suatu usaha.
Hubungan antara expected value dan objective choice dalam konsepsi sebuah pengambilan keputusan yang rasional seorang manajer di dunia nyata yaitu dalam menentukan peluang usaha atau keputusan terbaik maka diharapkan adanya nilai harapan dari suatu tindakan yang sifatkan bisa slalu menguntungkan, karena dalam menentukan keputusan diperlukan banyak pertimbangan mengingat terdapat banyak sekali resiko yang akan muncul. Peran penting dalam pengambilan keputusan yang tepat  dipegang oleh seorang manager perusahaan.  Seorang manager perusahaan adalah  orang yang harus memiliki pengalaman, pengetahuan dan keterampilan yang baik untuk dapat memimpin, mengelola, mengendalikan, mengatur serta mengembangkan organisasi dalam rangka mencapai tujuannya. Sehingga objective choice  atau Pilihan yang obyektif seorang manager di dunia nyata  untuk mencapai  tujuan  terbaik sangat diperlukan guna mendapatkan keputusan atau nilai harapan yang menguntungkan.

Mengacu pada materi terlampir dan dari penjelasan dalam video tersebut, bagaimana hubungan antara expected value dan objective choice dalam konsepsi sebuah pengambilan keputusan yang rasional seorang manajer di dunia nyata?
Setiap bisnis yang akan dijalankan tentu saja terdapat Nilai Harapan yang akan diperoleh (Expected Value). Dapat  Dipetakan opsi-opsi yang perlu di buat, opsi-opsi yang dilakukan dengan nilai biaya yang akan didapat dengan perhitungan nilai bahan, peluang income, dan resiko yang akan di didapatkan sehingga dapat dihitung berapa prosentase sukses dan gagal. Setelah mendapat kan perhitungan semua tersebut belum tentu  menjadikan garansi bahwa nilai yg di dapat tersebut sesuai kenyataan.
Pilihan rasional (objective choice) juga di perlukan dalam menegaskan nilai-nilai harapan yang telah dihitung, yaitu dengan adanya banyak resiko yang akan ditanggung, maka perlu adanya telaah berbagai resiko yang akan timbul dengan melakukan percobaan detail yang akan memberikan berbagai opsi dalam menentukan keputusan bisnis.
Misal :
Bisnis es krim = peluang bisnisnya 50% dari perhitungan setelah dikurangi modal dll
Bisnis hot dog= Peluang bisnisnya 40% dari perhitungan setelah dikurangi modal dll
Secara teoritis  peluang bisnisnya besar ke es krim
Tetapi jika dipertimbangkan secara rasional, bahwa es krim saat musim hujan, tidak akan laku sebanyak bisnis hot dog yang dapat terjual pada segala jenis musim dari pada bisnis es krim yang lebih besar yaitu 50% (secara teoritis) sehingga dimungkinkan berpeluang lebih besar berbisnis hot dog. maka peluang secara nyata bisnis hot dog lebih menjanjikan daripada es krim
Tetapi perlu dilihat kembali, perlu dilakukan pertimbangan –pertimbangan resiko yang akan dialami dari percobaan berulang dengan kondisi yang sama terhadap bisnis yang akan di putuskan. Misal : Tempat berjualannya strategis atau tidak, kumpulan massa di daerah tersebut, banyaknya pesaing bisnis sejenis di tempat tsb, dll.